dari aku, untuk diriku.


Dia benar. Aku memang tak bisa memaksamu. Tak ada yang bisa. Semangat hidupmu pupus seperti lilin yang tertiup angin. Kamu bertahan dan mendekap temaram. Sama nasibnya seperti kedai mereka yang padam. Tutup. 

Kuurut pelan-pelan dahiku. Mengerutkannya. Memikirkan sebuah hal yang memang tidak bisa jika tidak difikirkan. Sejujurnya akupun kalut, dan lama-lama meragukan sikapku sendiri. Atau mungkin lebih tepatnya memikirkan nasib hidupku sendiri. 

Sesempit itukah lingkungan kehidupan yang kamu fikirkan? Bukankah melakukan "kegiatan monoton" yang biasa kamu lakukan setiap hari juga membosankan? Pergilah yang jauh dari sini. Ke tempat yang baru yang mungkin akan mengubahmu menjadi lebih baik. Hingga mereka tak mungkin mengenali keberadaanmu lagi. 

Pergilah! Cobalah untuk mendamparkan dirimu ke sebuah alam yang tak dikenal. Mencoba melepaskan semua yang tertahan di dadamu. Karena kamu mampu, dengan cara yang tidak bisa dijelaskan. 

"Aku harus pergi" kataku dalam hati. Aku menarik nafas dan menggigit bibir keras-keras, kemudian suaraku keluar dalam bisikan "terima kasih". Iya. Sakit hati yang tak tertahankan aku rasakan dalam dua kata pendek itu.  Tidak marah, tidak punya kedengkian. Hanya sedikit penyesalan dan kekecewaan. 

0 komentar