Since You Been Gone

"Terimakasih" jawabnya. 

Suaranya menghilang. Dia menoleh ke arahku dan mengangguk pelan. Aku tersenyum. Dia tersenyum. Aku memercayai senyuman itu. 

Kita berjalan berdampingan untuk keluar ruangan menuju tangga dan kemudian aku sedikit berlari menuruninya. Di dasar setiap tangga, aku melompat dari anak tangga terbawah sambil menyentuhkan kedua tumit untuk membuatnya tertawa, dan dia tertawa.

Aku mencoba untuk baik-baik saja. Aku mencoba untuk tetap menjadi aku yang ceria. Kupikir aku membuatnya terhibur. Kupikir dia bisa dihibur. Kupikir mungkin kalau aku percaya diri, sesuatu akan terjadi diantara kita. Kupikir aku bisa menarik semua kata-kataku sebelum dia akhirnya hanya menjawab “Terimakasih”.

Aku keliru.
Kata-kataku salah.
Kata-kataku menyakitinya.

Ini berat untuk kita (aku). Tidak ada yang mengatakan bahwa ini mudah, tapi tidak ada juga yang mengatakan bahwa ini akan selamanya berat dan tidak bisa kita (aku) lalui dengan baik.

Kupikir keesokan harinya kita akan tetap baik-baik saja layaknya dua manusia yang pernah dekat. Kupikir kita akan tetap saling menyapa. Kupikir kita tetap berhubungan baik. Tapi ternyata tidak. Kita terlihat seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal, cenderung menghindar dan pura-pura tidak melihat. 

Menyadari kesalahan, meminta maaf, memaafkan diri sendiri dan mencoba membuka hati. Itu adalah caraku untuk membuatku lebih baik. Larut dalam rasa bersalah sepertinya tidak akan menguntungkan siapa pun (aku atau dia). Belajar dari kesalahan dan berusaha untuk memperbaiki semua kesalahan yang ada. 

Ini lucu. Aku yang membuat keputusan dan aku yang merasa bersalah. Aku menyesal. Aku memikirkannya. Aku berusaha untuk menjawab semua kalimat yang aku pikirkan. Aku hanya mengatakan apa yang kurasa ingin dan harus diucapkan. Aku mengatakan apa yang aku rasakan. Apa yang aku lakukan benar (menurut aku). Aku punya alasan. Iya. Aku punya alasan.

Aku tidak menyesal. Bukannya ini yang kamu inginkan? Semua tidak ada yang perlu disesali. Aku bukan marah kepadanya. Aku marah kepada diriku sendiri. Aku bersyukur pernah mengenalnya dengan semua hal yang pernah kita lewati. Aku lebih bisa mengerti diriku yang dulu dan sekarang. Dengan apa yang kudapat sebelum, saat, dan setelah bersamamu. 

0 komentar