Selesai! Aku Pergi.

Loc : Kebun Cengkeh Zanzibar, Curug Lawe, Semarang  
Ada saat-saat dimana ketika aku bersamanya dan itu terlalu banyak. Apakah itu sesuatu hal yang wajar? Ketika seseorang mampu membuat emosi dalam dirimu berantakan dan memiliki pengaruh yang begitu kuat sehingga kamu tidak tahan untuk bersamanya.

Pada saat-saat itu, aku sangat ingin pergi--pulang, berjalan ke kamar tidurku, menutup pintu kamar. Merangkak ke tempat tidur, berbaring di sana dalam kegelapan, kemudian bergelung di dalam selimut, dan hanya ditemani sebuah lagu dari Lee Hi - Rose. Aku ingin ditinggal sendiri--bersama diriku dan dengan tidak memikirkannya.

Dan meskipun semua ketidakpernahan lagi itu begitu melumpuhkan serta menggelisahkan, namun kepergian terakhir ini menurutku terasa sempurna. Sungguh. Bentuk paling nyata dari sebuah istilah 'kebebasan'. Semua yang penting kecuali selembar foto norak yang menempel di dinding kamarku, tapi rasanya begitu menyenangkan. Aku mulai berlari, pergi menjauh, dan ingin memberi jarak lebih jauh lagi antara diriku dan semua tentangnya. 

Berat sekali untuk aku pergi--sampai aku pergi. Dan kemudian itu menjadi salah satu hal termudah di dunia. 

Aku pergi, dan kepergian ini begitu menyenangkanku sehingga aku tau aku takkan pernah kembali. Tetapi selanjutnya bagaimana? Apakah aku, akan terus-menerus meninggalkan tempat demi tempat, dan meninggalkannya, iya meninggalkannya, mengarungi perjalanan menyenangkan versi aku dengan diriku sendiri?

"Selesai. Aku pergi."
"Aku tidak tau harus berkata apa lagi," kataku.
"Tidak apa-apa," dia menjawab, "Aku tau kita ini siapa dan aku tau kita bukan siapa."
Tidak pernah ada satu alasan khusus mengapa dua orang yang saling terhubung kemudian saling menarik dan akhirnya terpisah. Aku berifikir. Aku mencari jawaban. Sampai berbulan-bulan kemudian aku memutuskan untuk berhenti mencari jawaban itu. Sepertinya cinta tidak selalu bisa menjadi jaminan. Tidak, ketika kamu masih berada di dunia ini. Karena akan ada banyak hal yang menyainginya. 

Aku tau, mencintainya telah mengajariku tentang diriku dan itu mampu mengajariku tentang bagaimana dunia ini bekerja. Kata-kata yang paling kuingat darinya pada hari itu, diucapkan ketika tidak ada yang tersisa untuk dikatakan. "Bertahanlah, aku akan membuktikan." Dia mencoba membuatku tetap tinggal dengan segala usahanya untuk meyakinkanku yang pada akhirnya masih belum bisa meyakinkanku.

Aku merasa bahwa diriku ini "abnormal", aneh, dan sedikit jahat. Atau bahkan 'sangat jahat'. Aku tidak tau apa arti "normal" yang sebenarnya. Aku pikir setiap orang memiliki definisi sendiri, dan hal itu adalah wujud dari lingkungan mereka, teman, keluarga, pengalaman, dan semua peristiwa yang pernah mereka lewati. Apakah normal untuk satu orang itu berarti tidak normal untuk orang lain?

Satu hal yang pasti. Aku memiliki alasan tersendiri kenapa aku memutuskan untuk pergi dan aku berhak atas itu. 

0 komentar