Saturday, April 27, 2019

The City of Longing!

April 27, 2019 1 Comments
Taman Sari Jogja

Waktu itu malam Rabu (13 Februari 2019) ketika sebuah rindu yang sudah begitu banyak akhirnya tertumpuk didalam hati. Tiba tiba ada grup Whatsapp baru yang ternyata berisi perempuan perempuan dengan tingkat 'memahami' yang sangat baik. Cicik, Gendat, Irma, Mba Tika, Metty, Nopi. Ya. Mereka salah satu dari tumpukan rinduku itu. 

Perbincangan sudah dimulai. Aku menyimak, mengikuti yang kemudian mampu membuatku berkhayal dimana diriku bersama diri diri mereka bertemu (setelah sekian tahun), bercerita tentang pekerjaan kita, bercerita tentang kisah cinta kita, dan bercerita tentang banyak hal yang dulu hampir tiap hari kita lakukan di sebuah ruangan kecil di lantai lima, dengan iringan suara kipas angin yang hampir tidak terasa anginnya karna udara yang begitu panas. Aku merindukan mereka. Sangat! (sesungguhnya akupun merindukan tempat itu) dan aku sudah tidak sabar untuk menanti pertemuan itu. 

Jumat, 08 Maret 2019
Wow. The days finally here! Saat itu hari yang cukup panas di bulan Maret. Aku bersyukur, karena aku tidak perlu melakukan hal hal 'ribed' karena harus menggunakan jas hujan atau berlari lari menggunakan payung menuju lobby stasiun. Setelah sampai, aku memasuki kereta yang akan membawaku ke pertemuan itu.

Beruntung karena saat itu kereta memang sudah datang. Tiga jam terasa sangat lama karena aku sudah tidak sabar untuk bertemu mereka. Posisi dudukku saat itu sangat tidak mendukung (karena tidak dekat dengan jendela dan aku kesusahan untuk mengisi baterai ponselku) tapi aku tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Aku masih bisa menikmati perjalanan ini. Meskipun kereta terasa sangat penuh, kotor, dan segala macam bau sudah bercampur karena kereta ini sudah begitu jauh berjalan. 

Sampai di stasiun tujuan. Aku mengabarkan mereka bahwa aku sudah sampai dan kita memang sudah sepakat untuk bertemu di suatu tempat sesuai dengan rundown yang sudah kita buat. Aku memesan salah satu ojek online. Sedikit cemas karena baterai ponselku sudah merah dan ojek pesananku still "looking for a driver.." hingga kucoba berkali kali. 

Ini masalahnya: baterai ponselku 3%. Malam sudah semakin larut. Sendirian. Buta arah. Teman temanku sudah menungguku. Aku tidak tau ternyata pada hari itu ojek online yang aku pesan tidak beroperasi karena siang harinya mereka 'mogok'. Semua itu sangat dramatis dan semacamnya, tapi memangnya kenapa? Aku kan masih bisa sewa motor di penyewaan. Atau masuk ke suatu rumah makan terdekat hanya pesan minum dengan tujuan mengisi baterai ponselku.


Banyak orang yang tidak kukenal melakukan hal itu pula. Untungnya aku tidak kehabisan ide. Aku mencoba untuk memesan ojek online lainnya yang langsung menemukan 'driver'. Mencoba menghubunginya lebih dulu (kaya cowo yang ngajak baikan cewenya kalo lagi ngambek) dengan nada memelas dan mengatakan kalo ponselku hampir mati yang di balas "baik mas, saya sedang menuju tkp". Mas? Iya "mas". Aku sudah tidak asing dengan panggilan itu. 

Ojek pesananku datang dan aku sampai di tempat pertemuan pertama yaitu Tempo Gelato Jakal II. Mencari tahu dimana keberadaan mereka. Mataku melihat ke segala arah yang kemudian disusul dengan lambaian tangan seorang perempuan yang aku kenal. Aku berlari menuju gerumbulan itu. Tertawa, bahagia, dan rasanya aku sampai tidak memberi kesempatan kepada diriku sendiri untuk bernafas karena aku terlalu bahagia. Mengingat siangnya kita semua telah menempuh perjalanan jauh. 

Es krim sudah habis (meskipun cerita kita baru dimulai). Malam juga sudah larut. Kita memutuskan untuk menuju penginapan. Terbagi menjadi dua kamar. Aku, Cicik dan Nopi. Sedangkan Metty hanya bersama Gendat, karena saat itu Mba Tika belum sampai.
aku di Tempo Gelato
(ngga ada foto yang lebih baik dari ini)
Sabtu, 09 Maret 2019
Sabtu pagi, salah satu dari kamar sebelah menyelinap masuk. Metty! (udah pasti Metty karna Gendat belum bangun. wqw). Dia mengganggu tidurku. Ah tapi sejujurnya aku sangat merindukan moment moment berantem kita itu. Pukul 09.30 kita keluar penginapan. Mencari tempat makan untuk sarapan dan tujuan selanjutnya adalah menyelesaikan rundown yang sudah kita buat tanpa melewatkan satupun dari semua list di hari itu. 

Selesai makan, kita langsung cus ke tempat pertama yaitu Kraton Yogyakarta. Karena ternyata dari kita berlima (ah iya berlima, Mba Tika belum datang dan Irma ngga bisa ikutan) yang pernah ke Kraton itu cuma cicik. Bukannya tempat itu tuh jadi tempat tujuan study tour anak anak SD atau SMP ya? Pertanyaanya, kemanakah kita saat SD dan SMP?  huhu. Cicik looks like a tour guide for us! Thank you.
salah satu gazebo di Keraton
salah satu rumah di Keraton
Selesai muter muter di Keraton dengan semua sejarahnya, kita keluar mencari mba tika dan menuju ke list selanjutnya yaitu Kampung Wisata Taman Sari. Butuh satu jam untuk tiba disana karena ada beberapa insiden yang tidak diinginkan terjadi. Meskipun cuaca sedikit panas tapi itu sama sekali tidak menyurutkan semangat kita untuk menyelesaikan list hari ini.

Kita melangkah perlahan, sebab banyak sekali tempat yang harus diamati dibandingkan dengan lokasi sebelumnya, lebih banyak tempat untuk bersembunyi. Udara yang lembab dan gelap, ada banyak orang yang membuat kita harus berjalan lebih pelan. Aku berjalan diam mengamati dinding dinding yang dulunya bekas masjid bawah tanah dan Gendat beberapa kali menyadarkanku.
Taman Sari Jogja
kuskus sama gendat
Jam 5 sore kita balik ke penginapan, karena kita masih ada satu tempat lagi yang akan kita datangi yaitu Filosofi Kopi. Tapi kenyataannya, itu hanya menjadi rencana semu. Karena malam harinya kita lebih memilih untuk makan di SS daripada pergi ke Filkop dan sepulang dari SS kita semua tepar. Huhu. 

Minggu, 10 Maret 2019

Ini hari terakhir kita di Yogyakarta. Beberapa dari kita sudah ada yang punya rencana sendiri sendiri. Pagi itu di Yogyakarta mendung dan gerimis juga menjelang siang. Ada yang jadwal tiketnya jam 12siang, jam 2siang, dan jadwal tiketku jam 5sore. Jeda waktu sembari menunggu keberangkatan, kugunakan untuk mampir ke Jogja City Mall. 

Ada beberapa hal yang aku harus lakukan dan tidak lupa kubeli Bakpia Kurnia Sari (ya. itu favorite banget). Dari JCM aku langsung menuju ke Stasiun Lempuyangan. Perjalanan pulang aku habiskan untuk tidur. Tiga jam terasa sangat cepat. Jam 7 aku sudah sampai di purwokerto dan langsung pulang ke rumah. 

Aku berharap akan ada 'city of longing' lainnya. Dimana di kota tersebut kita akan merencakan pertemuan dan pelarian selanjutnya dengan berbagai kebahagiaan yang ada didalamnya. Kalian yang sudah meluangkan waktu untuk pertemuan ini, thank you so much dan untuk Irma yang ngga bisa gabung kali ini, semoga ada kesempatan dilain waktu. 


all of you is one of my mental maintenance. see yaa!

Tuesday, April 16, 2019

Fall Into Oblivion :(

April 16, 2019 9 Comments
Sebuah lagu, nama jalan, keadaan jalan, warna baju, makanan dan beberapa hal lainnya yang terkadang bisa membuat kita ingat akan "suatu" hal yang pernah kita alami. Hal tersebut seolah menjadi "jangkar memori" untuk membawa kita kembali memikirkan "hal" yang saat itu sedang terjadi dan membayangkan seakan kita berada disana kembali, dengan segalanya yang ada pada saat itu meskipun kita tidak sengaja untuk mengingatnya.
John Green dalam bukunya Paper Towns mengatakan "the town was paper, but the memories were not", disaat itu juga aku sepakat dengan pendapatnya John Green. Karena, Ya. Memori itu akan selalu diingat seseorang, selama orang tersebut masih ada di dunia ini, dan tidak dalam keadaan gila. I think, it also still applies to "forgetful people". Ya.. meskipun hasilnya mungkin tidak semaksimal orang yang "suka" untuk mengingat suatu kejadian yang ada di masa lalu.

Diingat merupakan keinginan banyak orang. Dan beberapa orang dari mereka mencoba membuat karya, mengabadikan moment dengan foto, video, dan meninggalkan jejak jejak lainnya. Mereka berharap untuk diingat, mereka berharap agar orang orang setelah dia (entah itu orang yang mengenalnya maupun tidak mengenalnya) itu tau bahwa "dia" pernah ada di dunia ini.

However, there are things that make me confused when in TFiOS (The Fault in Our Stars), John Green said "there will come a time when all of us are dead. all of us! there will come a time when there are no human beings remaining to remember that anyone ever existed or that our species ever did anything. there'll be no one left to remember Aristotle or Cleopatra, let alone you. everything that we did and built and wrote and thought and discovered will be forgotten and all of this will have been for naught."

Ya!!!
--akan tiba saatnya ketika kita semua mati. KITA SEMUA! akan tiba saatnya ketika tidak ada orang yang tersisa untuk mengingat bahwa ada yang pernah ada atau bahwa spesies kita pernah melakukan sesuatu. tidak akan ada yang tersisa untuk mengingat Aristoteles atau Cleopatra, APALAGI KAMU. Semua yang kita lakukan dan bangun dan tulis dan pikirkan dan temukan akan dilupakan dan semua ini akan sia sia.
Dengan segala kebingungan, kali ini rasanya aku juga sepakat dengan John Green dalam TFiOS. Karena aku merasa aku akan dilupakan. Semua foto di instagram, cuitan dalam twitter, postingan di facebook, bahkan tulisan ini'pun yang aku tulis dengan penuh konsentrasi di Kantor CV. Java Multi Mandiri, 16 April 2019 pukul 16.53 WIB akan dilupakan ketika semua orang yang pernah membacanya telah kembali ke Tuhan.

Entahlah! yang jelas, mencoba untuk berbuat baik dan bersyukur atau bahkan mencoba untuk "diingat" menjadi salah satu hal yang akan membuat kita sadar akan kebesaran Tuhan. Dan untuk "diingat" atau "dilupakan" itu urusan nanti.

Karena,,
"what is the point of being alive if you don't at least try to do something remarkable?"
- John Green, An Abudance of Katherines.

Love you, and see ya!

Wednesday, April 3, 2019

Seaneh Itukah Nonton ke Bioskop Sendirian?

April 03, 2019 0 Comments
Aku buka BookMyShow apakah di kota aku udah tayang atau belum, yang ternyata belum tayang dimanapun (cuma ada dua bioskop di Purwokerto sih). Sedikit kecewa, tapi aku masih rajin ngliatin BookMyShow tiap hari. Sampai akhirnya Senin, 18 Maret 2019 udah tayang tuh. Tapi cuma ada di Rajawali Cinema, di CGV ternyata ngga ada. Udah greget banget pengin nonton. Berhubung partner nontonku sekarang lagi ngga disini (partner nonton segala film, karna dia emnag hobi banget nonton di bioskop) nah rencananya mo ngajak temen kantor. Tapi kok genrenya Drama/Romantic, takut beberapa temenku ngga suka kalo misal nantinya aku ajakin. Finally, i decided to go to the cinema with myself. At first i thought i'd go later that day, but unfortunately my clothes didn't really support me to go to the cinema alone.
Selasa pagi, aku nyiapin baju yang ngga biasanya aku pake. (sedikit mendukung tingkat kepercayaan diriku pergi sendirian). Terus rada siangan aku minta tolong temenku buat booked the ticket. Dan ketika menjelang jam pulang kantor.. kulangsung siap siap dong. 

Sampai di bioskop. Omoo! Rame banget. Hampir 75% itu berpasangan.. seenggaknya ketika ngga berpasanganpun mereka barengan ama temen temennya. Kucoba buat pede aja. Nuker tiket, terus masuk, beli Caramel Pop Corn sama minum. Sebelum studio dibuka, kucari tempat duduk buat nunggu yang ngga memungkinkan "orang pacaran" duduk sebelahku atau di belakangku. 

05.20 aku masuk. huhuw.. sendirian, nyari tempat duduk. 
Daaan.. you know what? seriusan itu filmnya bagus banget. It will make you cry until the end. ❤❤

Finally.. everyone looking at each other when the lights turn back on after Five Feet Apart ended. 

Stella   : so, are you in?
Will     : i'm so in
Buat temen temen yang pengin nonton banget tapi ngga ada partner, atau ada tapi terkesan sedikit memaksa, kalo menurutku mending nonton sendirian sih, daripada waktu keluar bioskop terus ngajak cerita ternyata zonk! 

Oh ya 'pergi sendirian' juga bisa berlaku untuk hal lainnya, ngga cuma nonton aja sih. Misalnya mau ke toko buku atau pergi makan, daripada kita ngajak orang tapi terkesan memaksa karena mungkin orang tersebut tidak terlalu minat, alangkah lebih baik pergi sendirian. 
Ah mungkin akan ada beberapa orang yang ngliatin terus dan dalam hati mereka berkata 'pede banget yah pergi sendiri? apa ngga punya temen'. 
Percayalah orang orang itu juga ngga akan mau bayarin belanjaan kita, dan sesungguhnya dia juga ngga lebih bahagia dari kita. lol

that's my opinion. See ya!